Dari sekitar 42 ribu kepala keluarga yang masuk dalam data sasaran, tidak semuanya memiliki anak usia sekolah maupun berminat mengikuti program tersebut. Karena itu, proses verifikasi menjadi tahapan penting untuk memastikan program tepat sasaran.
“Kami tidak hanya melihat data administrasi, tetapi juga melakukan verifikasi langsung ke lapangan. Tujuannya agar program ini tepat sasaran dan benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan,” jelasnya.
Meski jumlah peminat telah melebihi kuota, Dinas Sosial menegaskan proses seleksi akan tetap dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami bersyukur minat masyarakat sangat tinggi. Tetapi karena kuota terbatas, tentu akan ada proses penetapan berdasarkan hasil verifikasi dan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Yang terpenting, seluruh proses berjalan transparan dan objektif,” tegas Subur.
Sementara itu, minat masyarakat pada jenjang SD masih belum setinggi SMP dan SMA. Menurut Subur, kondisi tersebut dipengaruhi faktor psikologis orang tua yang masih merasa berat apabila harus berpisah dengan anak usia sekolah dasar.
“Untuk jenjang SD memang masih menjadi tantangan. Banyak orang tua yang mengaku belum siap melepas anaknya tinggal di lingkungan sekolah karena usia mereka masih sangat muda. Kami memahami kondisi tersebut dan terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” ungkapnya.
Pemerintah daerah bersama Dinas Sosial terus melakukan sosialisasi mengenai sistem pendidikan, pola pengasuhan, serta fasilitas yang akan diterima siswa selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
Subur optimistis seluruh persiapan dapat diselesaikan tepat waktu, baik dari sisi sarana dan prasarana maupun kesiapan peserta didik.
“Kami optimistis seluruh persiapan dapat rampung tepat waktu. Harapan kami, Sekolah Rakyat dapat menjadi wadah yang mampu membuka akses pendidikan lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka di masa depan,” pungkasnya.(sinyo)












