Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, mengatakan penataan ulang koleksi merupakan tindak lanjut atas arahan Bupati Kediri.
Namun, tidak seluruh artefak dimasukkan ke dalam kotak kaca. Benda yang dinilai cukup aman tetap dibiarkan terbuka agar pengunjung dapat berinteraksi secara langsung.
“Untuk yang sekiranya rawan kita masukkan dalam vitrin (kotak kaca), tapi juga ada beberapa artefak yang memang aman untuk dipegang tetap kita biarkan terbuka supaya pengunjung bisa melakukan interaksi langsung,” jelas Mustika.
Konsep tersebut membuat museum tidak hanya menjadi tempat untuk melihat benda-benda bersejarah dari balik kaca. Sebagian koleksi tetap dapat menjadi media pembelajaran yang lebih interaktif bagi pengunjung.
Penataan Museum Sri Aji Joyoboyo juga tidak berhenti pada pembangunan tahap ketiga.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri kini menyiapkan pengembangan museum etnografika di sisi utara kawasan museum. Desain perencanaan teknis atau DED untuk pengembangan tersebut kini memasuki tahap finalisasi.
“Ini DED hampir selesai, insyaallah dalam pekan ini kita finalisasi,” ujar Mustika.
Museum etnografika nantinya diarahkan untuk menyimpan dan menampilkan berbagai benda yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesenian.
Dengan konsep tersebut, kawasan Museum Sri Aji Joyoboyo diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah masa lalu, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran yang mempertemukan sejarah, artefak, tradisi, kebudayaan, dan kesenian Kediri.(sinyo)












