Bagi sekolah, kegiatan tadarus bukan semata-mata tentang kelancaran membaca Al-Qur’an. Ada nilai ketekunan, kesabaran, kebersamaan, dan saling menghargai yang turut ditanamkan selama proses pembelajaran berlangsung.
Suyati menegaskan, penguatan karakter religius perlu dilakukan melalui pengalaman langsung agar nilai-nilai yang diajarkan tidak berhenti sebatas teori.
“Melalui tadarus, kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terus belajar, memperbaiki bacaan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Proses belajar ini perlu dilakukan dengan pendampingan dan suasana yang nyaman agar siswa semakin termotivasi,” jelasnya.
Ia juga mendorong para siswa untuk membangun sikap saling membantu dan menghormati. Ketika ada teman yang masih mengalami kesulitan dalam membaca, mereka diharapkan dapat saling mengingatkan dengan cara yang baik, sementara guru memberikan arahan agar proses belajar berjalan secara positif.
“Nilai yang ingin dibangun bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga kesabaran, kebersamaan, dan sikap saling menghormati. Anak-anak belajar bahwa memperbaiki diri merupakan proses yang harus dijalani dengan tekun,” tuturnya.
Upaya tersebut mencerminkan komitmen SMPN 4 Pare dalam menyelaraskan pendidikan intelektual dengan pembentukan kepribadian. Sekolah berupaya memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sekaligus memperkuat nilai moral serta spiritual sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa mendatang.
Suyati menyadari, keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Dukungan keluarga memiliki peran penting untuk memastikan kebiasaan baik yang ditanamkan di lingkungan pendidikan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan karakter merupakan proses yang berkelanjutan. Karena itu, pembiasaan yang dilakukan di sekolah perlu mendapatkan dukungan dari keluarga agar nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak mulia semakin melekat dalam diri anak,” ungkapnya.
Ia berharap, para siswa SMPN 4 Pare dapat tumbuh menjadi generasi yang berpengetahuan luas, terampil, beriman, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai agama diharapkan tidak hanya dipahami sebagai ajaran, tetapi juga menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Rangkaian kegiatan tadarus ditutup dengan doa, termasuk doa khotmil Qur’an sesuai pelaksanaan kegiatan, sebelum para siswa kembali melanjutkan aktivitas pembelajaran.
Melalui pembiasaan sholat berjamaah dan tadarus Al-Qur’an, SMPN 4 Pare berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun fondasi karakter peserta didik.
Sebab, membumikan Al-Qur’an di lingkungan sekolah bukan sekadar memperdengarkan lantunan ayat suci, melainkan juga menanamkan nilai-nilainya agar tercermin dalam kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.(sinyo)












