Mediaciber.net.Bojonegoro – Pemerintah terus mendorong penguatan pembangunan keluarga melalui Program Gayatri yang kini menjadi salah satu program strategis daerah di Kabupaten Bojonegoro.
Program ini diarahkan untuk membangun sistem berencana dari hulu ke hilir, guna memastikan setiap tahapan, mulai dari edukasi hingga implementasi, berjalan terintegrasi dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Namun di tengah upaya tersebut, dinamika ekonomi di lapangan menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah fluktuasi harga telur yang berdampak langsung pada pendapatan masyarakat, khususnya keluarga penerima manfaat (KPM) yang bergantung pada sektor peternakan.
Berdasarkan data terbaru, harga telur di wilayah Kabupaten Bojonegoro di tingkat pasar berada di kisaran Rp27.500 per kilogram. Sementara itu, di tingkat peternak, harga hanya berkisar sekitar Rp24.000 per kilogram, bahkan sempat menyentuh angka lebih rendah dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini menunjukkan adanya selisih harga yang cukup signifikan antara tingkat produksi dan distribusi.
Situasi tersebut menuntut kepekaan para pemangku jabatan untuk tidak hanya fokus pada perencanaan program, tetapi juga responsif terhadap kondisi riil masyarakat. Penurunan harga di tingkat peternak berpotensi menekan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli dan kesejahteraan rumah tangga.
Dalam konteks ini, Program Gayatri diharapkan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat.












