“Sekitar 70 persen peserta program ini berasal dari Indonesia. Ini menunjukkan kepercayaan besar Jepang terhadap kualitas tenaga kerja kita,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin, mengingatkan pentingnya menjaga reputasi tersebut.
“Citra tenaga kerja Indonesia sudah baik. Ini harus dipertahankan dan ditingkatkan. Kuncinya ada pada kesiapan mental, fisik, dan kemampuan beradaptasi,” katanya.
Ia menambahkan, para peserta masih harus menjalani pelatihan lanjutan tingkat nasional sebelum benar-benar diberangkatkan.
Di sisi lain, kebanggaan juga dirasakan keluarga peserta. Rohmat (46), orang tua Riski Maulana Ismail asal Blitar, mengaku haru atas capaian anaknya.
“Kami sangat bersyukur. Ini bukan hanya kebanggaan, tapi juga harapan besar agar anak kami bisa sukses dan membawa perubahan bagi keluarga,” ungkapnya.
Program ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda Kediri untuk menembus dunia kerja internasional, sekaligus membawa dampak ekonomi nyata saat kembali ke tanah air.(sinyo)










