Perwakilan Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, M.Hum., turut menyampaikan apresiasi atas konsistensi Pemerintah Kota Kediri dalam merawat warisan budaya.
“Saya mengucapkan selamat Hari Jadi Kota Kediri ke-1147. Kota Kediri sangat luar biasa karena mampu memaknai sejarahnya sebagai kota tertua yang tetap hidup hingga sekarang. Dalam konteks modern, Kediri layak disebut sebagai living museum, kota yang tidak hanya menyimpan prasasti, tetapi juga terus menghidupkan nilai-nilai sejarahnya di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Tak hanya mengangkat nilai budaya, peringatan Hari Jadi Kota Kediri tahun ini juga diwarnai aksi sosial. Sebagai bentuk rasa syukur, Pemerintah Kota Kediri menyerahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 1.407 anak yatim yang tersebar di seluruh Kota Kediri.
Masing-masing penerima memperoleh bantuan tunai sebesar Rp600.000 beserta bingkisan. Bantuan tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026 dan diberikan kepada anak yatim dari kelompok Desil 1 hingga Desil 5 dengan usia maksimal 18 tahun.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Imam Muttakim, mengatakan penyaluran bantuan sengaja dilakukan bertepatan dengan Hari Jadi Kota Kediri agar kebahagiaan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak yatim.
“Hari jadi Kota Kediri merupakan momentum terbaik untuk berbagi. Kami ingin anak-anak yatim juga ikut merasakan kebahagiaan dalam perayaan ini. Semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan kebutuhan mereka sekaligus membawa manfaat, keberkahan, dan menjadi penyemangat untuk terus meraih cita-cita,” kata Imam.
Melalui perpaduan antara pelestarian budaya dan kepedulian sosial, Pemerintah Kota Kediri ingin menegaskan bahwa Hari Jadi ke-1147 bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum memperkuat identitas sejarah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Ritual Manusuk Sima pun kembali menjadi pengingat bahwa kemajuan Kota Kediri harus selalu berpijak pada akar sejarah, budaya, dan semangat gotong royong.(sinyo)












