Selain modernisasi, Pemkab Kediri memperkuat perlindungan sosial bagi petani. Mas Dhito meminta seluruh kelompok tani dan gabungan kelompok tani segera mendaftarkan anggotanya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan agar memperoleh jaminan perlindungan saat bekerja.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menjelaskan bahwa mayoritas petani saat ini telah memasuki usia lanjut sehingga modernisasi menjadi solusi paling efektif untuk menjaga produktivitas.
Menurutnya, rice transplanter mampu mengatasi kelangkaan tenaga tanam, sedangkan drone pertanian sanggup mempercepat penyemprotan hama dan penyakit tanaman hingga sekitar tujuh hektare per hari.
“Pemerintah terus berkoordinasi dengan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan,” jelas Sukadi.
Modernisasi juga menyentuh sektor pascapanen. Dua unit alat pengolahan kopi diserahkan kepada kelompok tani agar hasil panen memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.
Dampak bantuan itu sudah dirasakan para petani. Rujianto, anggota Kelompok Tani Makmur Sejahtera, Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, mengaku alat roasting modern mampu memangkas waktu produksi secara signifikan. Jika sebelumnya menyangrai sekitar 20 kilogram kopi membutuhkan waktu semalaman, kini proses tersebut selesai hanya dalam waktu sekitar enam jam.
Efisiensi itu membuat kapasitas produksi meningkat, pesanan pelanggan lebih cepat dipenuhi, dan membuka peluang lebih besar bagi kopi robusta, arabika, serta excelsa asal Kabupaten Kediri menembus pasar yang lebih luas.












