Muhsin menekankan, sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh siswa. Tidak boleh ada peserta didik yang merasa takut, tertekan, dikucilkan, maupun direndahkan oleh lingkungan sekitarnya.
Karena itu, semangat yang dibangun dalam LBB tidak boleh berhenti ketika perlombaan selesai.
Jika di lapangan siswa belajar berjalan dalam satu barisan, di sekolah mereka harus belajar berjalan bersama sebagai sesama manusia.
Nilai saling menghormati, membantu, menghargai perbedaan, serta tidak merendahkan teman menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.
Pesan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) yang disampaikan melalui Muhsin juga menekankan pentingnya persaudaraan antarpelajar.
Generasi muda merupakan bagian penting dari masa depan Kabupaten Kediri. Karena itu, kompetisi antarsekolah harus menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan dan mengembangkan potensi, bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.
“Jangan sampai semangat berkompetisi berubah menjadi saling menjatuhkan. Justru dari kegiatan seperti ini harus lahir rasa saling menghormati, kerja sama dan persaudaraan.” ucapnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan melalui teori. Sikap disiplin, empati, tanggung jawab, dan menghargai orang lain harus dilatih, dibiasakan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SMPN 1 Kras, Soedjito, melihat LBB sebagai pengalaman belajar yang memberikan ruang kepada siswa untuk mempraktikkan karakter secara langsung.
Menurutnya, siswa tidak hanya belajar gerakan baris-berbaris. Mereka juga belajar mengelola kekompakan, menjalankan tanggung jawab, menjaga komitmen kelompok, dan berani tampil di hadapan publik.
“Kegiatan Lomba Baris-Berbaris ini bukan sekadar ajang kompetisi fisik, melainkan momentum penting bagi para siswa untuk memaknai kemerdekaan melalui tindakan nyata. Di lapangan ini, mereka belajar tentang kedisiplinan yang tinggi, kerja sama tim yang solid, dan rasa tanggung jawab yang besar,” ujarnya.
Soedjito menegaskan, kemerdekaan tidak cukup dimaknai dengan seremoni. Generasi muda harus mengisinya dengan prestasi sekaligus karakter yang kuat.
“Kami di SMPN 1 Kras selalu menekankan bahwa mengisi kemerdekaan harus diwujudkan melalui prestasi dan karakter yang kuat, bukan sekadar teori di dalam kelas. Saya sangat bangga melihat semangat dan kekompakan anak-anak hari ini,” tukasnya.(red)












