Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin mengungkapkan, program penjangkauan tersebut telah berjalan selama enam bulan. Sekitar 750 visitor diterjunkan untuk melakukan kunjungan langsung kepada anak-anak yang masuk dalam data ATS.
“Dari data awal sebanyak 11.181 anak tidak sekolah, saat ini berhasil kita turunkan hingga tersisa 5.725 anak. Capaian ini akan terus kita tindak lanjuti melalui visitasi dan penjangkauan hingga akhir tahun,” jelas Muhsin.
Artinya, dalam kurun waktu enam bulan, jumlah ATS berhasil ditekan sekitar 48,8 persen. Namun, pekerjaan rumah Pemkab Kediri belum selesai. Masih ada ribuan anak yang harus dijangkau dan dipastikan kembali memperoleh akses pendidikan.
Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri pun memasang target lebih agresif. Hingga akhir tahun, angka ATS diharapkan dapat ditekan hingga 70–80 persen.
“Target kita 70 sampai 80 persen di akhir tahun. Jangka panjangnya tentu kita ingin Zero ATS, tidak ada lagi anak yang putus dari akses pendidikan,” tegas Muhsin.
Program home visit menjadi penting karena setiap anak memiliki persoalan yang berbeda. Dengan mendatangi langsung keluarga sasaran, pemerintah dan tenaga pendidik dapat mengetahui kondisi sebenarnya sekaligus mencari solusi yang paling sesuai.
Bagi Pemkab Kediri, menekan angka ATS bukan sekadar mengejar statistik. Di balik setiap angka terdapat anak yang memiliki hak untuk belajar, berkembang dan menatap masa depan.
Dari 11.181 menjadi 5.725 anak, Pemkab Kediri kini membidik target lebih besar: memangkas ATS hingga 80 persen dan membawa Kabupaten Kediri menuju Zero ATS.(sinyo)












