Hadapi Kemarau Panjang, 26 Sumur Submersible Dibangun Serentak di Kabupaten Kediri

admin
Img 20260925 Wa0025

“Peningkatan indeks pertanaman ini diharapkan dapat mewujudkan apa yang menjadi cita-cita Mas Dhito untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” tambah Sukadi.

Upaya tersebut sejalan dengan capaian Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Kediri. Pada 2026, indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan petani itu mencapai 122, meningkat dibandingkan capaian 2025 sebesar 113,05.

Manfaat dukungan infrastruktur irigasi juga dirasakan langsung petani.

Gatot Sujoko, perwakilan Kelompok Tani Jaya, Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, mengungkapkan wilayahnya merupakan salah satu sentra tanaman cabai yang sangat membutuhkan ketersediaan air, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Sebelum mendapat dukungan infrastruktur pengairan, petani harus membeli air menggunakan tangki dengan biaya mencapai Rp50 ribu per meter kubik.

Kondisi tersebut mulai berubah setelah Pemerintah Kabupaten Kediri memberikan bantuan pembangunan embung pada 2021 untuk menampung air hujan.

Kemudian pada 2024, kelompok tani kembali mendapatkan bantuan pembangunan Irigasi Tanah Dangkal (ITD).

“Supaya suplai air tetap aman, pada 2024 bantuan pun kembali diberikan untuk pembangunan Irigasi Tanah Dangkal (ITD),” jelas Gatot.

Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai. Karena jaringan listrik belum menjangkau lokasi, petani masih harus menggunakan genset untuk menaikkan air. Meski demikian, biaya pengairan sudah berhasil ditekan hingga sekitar Rp10 ribu per meter kubik.

Efisiensi tersebut kembali diperkuat dengan pembangunan sumur submersible serta fasilitasi program listrik masuk sawah.

Dengan dukungan infrastruktur tersebut, Gatot optimistis cakupan lahan yang dapat diairi dan ditanami akan meningkat signifikan.

“Dengan bantuan tersebut, diyakini cakupan luasan lahan tanam yang sebelumnya bisa ter-cover 30 hektare akan meningkat. Harapan kami bisa menambah setidaknya hingga 60 hektare,” imbuhnya.

Bagi petani, keberadaan infrastruktur pengairan bukan sekadar soal tersedianya air. Lebih dari itu, kepastian air menjadi modal penting agar lahan tetap produktif, biaya produksi lebih efisien, dan kesempatan meningkatkan hasil panen semakin terbuka di tengah ancaman kemarau panjang.(sinyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maling yo..!!