Tambang PT EPAS Disetop Sementara, Warga Puncu Tetap Tuntut Tutup Permanen

admin
Img 20261017 Wa0001

Sebagai tindak lanjut, Dinas ESDM Jawa Timur akan menunjuk tim independen untuk melakukan kajian langsung di lapangan. Tim tersebut diharapkan dapat memberikan penilaian objektif terhadap kondisi lingkungan dan dampak aktivitas pertambangan.

Meski demikian, jadwal pemeriksaan, susunan tim, metode kajian, serta mekanisme pelibatan masyarakat belum dijelaskan secara terperinci. Kejelasan aspek-aspek tersebut menjadi penting agar proses kajian dapat dipantau publik dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Firman berharap penyelesaian persoalan ini tidak hanya mengakomodasi kepentingan usaha, tetapi juga memastikan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

“Kami sendiri ya juga mudah-mudahan ini ada win-win solution yang terbaiklah untuk masyarakat kami, juga untuk pihak-pihak yang lain. Kalaupun mereka ingin berusaha, tapi yang jelas tidak kemudian mengganggu lingkungan, merusak dan lain sebagainya,” ujarnya.

Di tengah kesepakatan penghentian sementara, sikap warga Puncu tetap tegas. Masyarakat tidak sekadar meminta aktivitas tambang dihentikan untuk sementara, tetapi menghendaki penutupan permanen PT EPAS.

Perwakilan warga, Sugeng, menegaskan masyarakat tidak menginginkan perusahaan kembali beroperasi setelah kajian selesai.

“Kami sangat tidak setuju andai EPAS beroperasi kembali. Biar bagaimanapun kami masyarakat Puncu menolak berlanjutnya PT EPAS yang beroperasi di Puncu,” tegasnya.

Bagi warga, persoalan tambang bukan semata-mata menyangkut aktivitas ekonomi perusahaan. Mereka menilai keberlanjutan sumber air, kelestarian alam, keselamatan masyarakat, dan potensi risiko bencana harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan masa depan pertambangan di wilayah tersebut.

Kekhawatiran itu juga berkaitan dengan posisi kawasan Puncu di sekitar Gunung Kelud. Warga meminta pemerintah tidak mengabaikan aspek keselamatan ketika mengevaluasi aktivitas pertambangan.

“Kami masyarakat Puncu menghendaki PT Empat Pilar tetap tutup total. Harga mati,” ujar Sugeng.

Ia mendesak seluruh pemangku kepentingan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan masyarakat, termasuk generasi mendatang.

“Anak cucu kami besok terselamatkan kalau alam ini masih kita miliki. Tolong stakeholder di sini pikirkan nasib masyarakat Puncu. Jangan seperti tahun 2014, tahun 2019, 1990 terjadi lagi. Aliran sangat dingin, sangat mengancam andai kata letusan Gunung Kelud terjadi. Jadi tolong, tolong jangan abaikan keselamatan masyarakat,” tandasnya.(sinyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maling yo..!!