“Kami berharap nilai-nilai ini tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga diterapkan dalam pergaulan sehari-hari, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan,” tambahnya.
Sementara itu, Wawan, Kasi Kurikulum Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, menilai penguatan moderasi beragama menjadi bagian penting dalam membangun karakter peserta didik. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu menanamkan sikap toleran, saling menghormati, dan menghargai keberagaman.
“Penilaian Sekolah Moderasi Beragama ini menjadi momentum penting bagi satuan pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam keberagaman. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan sikap menghargai perbedaan,” ujar Wawan.
Ia menambahkan, keberadaan tiga tempat ibadah di SMPN 3 Grogol menjadi gambaran pentingnya membangun kerukunan sejak dini. Nilai moderasi beragama diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penilaian, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya sekolah dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, nilai moderasi beragama ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Dengan begitu, anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang toleran, berkarakter, serta mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman,” pungkasnya.
Keikutsertaan SMPN 3 Grogol dalam penilaian tersebut menjadi momentum bagi dunia pendidikan Kabupaten Kediri untuk terus memperkuat pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Harapannya, SMPN 3 Grogol dapat memperoleh hasil terbaik dan melangkah ke tingkat nasional. Lebih dari sekadar capaian, praktik baik dalam menanamkan toleransi di lingkungan sekolah diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya.(simyo)












