“Klinik UMKM ini merupakan fasilitas yang bisa digunakan oleh pelaku UMKM untuk berkonsultasi dari sisi produksi, manajerial, permodalan, hingga pemasaran. Dari sisi produksi, kami melibatkan produsen yang berkompeten. Begitu juga sisi pembinaan manajemen usaha, sudah ada tim. Permodalan, ada BNI, BTN, OJK, Pegadaian, yang siap memberikan fasilitas akses permodalan. Ada BEI yang akan membimbing UMKM Go Public. Dari produksi, butuh modal, manajerial, dan market, itu kami sediakan. Silakan daftar, baik itu di bidang usaha kuliner, fashion, kriya, dan usaha lain yang masuk 16 sub sektor usaha,” kata Jamhadi.
Jamhadi mengajak masyarakat yang memiliki usaha di sektor UMKM agar memanfaatkan klinik UMKM Go Public. Tujuannya agar produk UMKM bisa berdaya saing dan berkualitas tinggi, serta punya manajeman yang kuat.
Disebutkan Jamhadi, sampai dengan saat ini, yang telah terdaftar di Klinik UMKM Go Public sebanyak 600-an UMKM. Mereka berasal dari berbagai daerah termasuk dari luar Jawa Timur.
Pelayanan di Klinik UMKM Go Public dilayani langsung oleh pendamping UMKM dan tenaga ahli. Untuk pelayanan dilakukan setiap hari dan jam kerja di kantor Klinik UMKM Go Public, di Universitas Narotama Surabaya.
“Klinik UMKM Go Public ini merupakan wujud keseriusan kami untuk memfasilitasi pelaku UMKM agar bisa berdaya saing global. Jangan takut untuk membuat produk, jangan takut untuk menciptakan produk. Kerjasama dengan Klinik UMKM Go Public yang ada di Universitas Narotama. Kami juga punya fasilitas UMKM Industry Estate. Sekarang bukan zamannya bisnis sendiri, tapi kolaborasi,” kata Jamhadi. (*)










