“Ini bentuk kepedulian yang luar biasa dari teman-teman juru pelihara. Tradisi ini bukan hanya membersihkan arca, tetapi juga mengingatkan pentingnya merawat warisan budaya,” ujarnya. Jumat (10/7/2026).
Tradisi jamasan tahun ini juga menarik perhatian peneliti asal Jepang, Saki Maeta (26), mahasiswa program doktor Antropologi Kobe University. Kehadirannya menjadi bagian dari penelitian mengenai praktik pelestarian budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Saki menilai upaya pelestarian cagar budaya di Kediri sudah berjalan cukup baik. Namun, ia berharap semakin banyak masyarakat mempelajari sejarah dan nilai yang terkandung dalam setiap situs agar tradisi tersebut tetap lestari.
Prosesi jamasan juga melibatkan masyarakat dan pengunjung. Mereka diperbolehkan ikut membersihkan arca sebagai bentuk partisipasi dalam menjaga kelestarian cagar budaya.
Eko menambahkan, pelestarian cagar budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Melalui tradisi Merti Cagar Budaya, kesadaran kolektif untuk merawat peninggalan sejarah diharapkan terus tumbuh dari generasi ke generasi.(sinyo)












