Muhsin menjelaskan, lakon “Totok Kerot Nglamar Prabu Jayabaya” dipilih karena mengandung pesan moral yang kuat tentang kebijaksanaan, kepemimpinan, kesabaran, keberanian, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
“Cerita-cerita klasik seperti ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin sejati dibangun melalui kebijaksanaan, ketulusan, dan pengabdian kepada masyarakat, bukan semata-mata karena kekuasaan. Nilai-nilai inilah yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak sejak dini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Muhsin mengajak seluruh masyarakat, mulai dari pelajar, guru, orang tua, komunitas seni, hingga pecinta budaya untuk hadir dan menyaksikan pertunjukan tersebut.
“Mari kita ramaikan bersama. Kehadiran masyarakat merupakan bentuk dukungan nyata kepada para seniman sekaligus ikhtiar bersama menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup, berkembang, dan tidak tergerus oleh perubahan zaman,” ajaknya.
Ia menambahkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri akan terus menghadirkan berbagai program yang mengintegrasikan pendidikan dengan pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari penguatan karakter peserta didik.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga harus menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya, sejarah, dan jati diri bangsa. Budaya adalah akar peradaban yang harus kita rawat bersama agar tetap hidup di tengah generasi masa depan,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan Kala Senja di Bumi Panjalu, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri berharap semangat melestarikan budaya lokal semakin tumbuh di kalangan generasi muda. Dengan demikian, warisan leluhur tidak hanya dikenang, tetapi juga terus dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan sebagai kebanggaan masyarakat Kediri dari generasi ke generasi.(sinyo)












