“Kalau penyebab yang sudah bisa diduga, kebanyakan memang karena faktor kelalaian manusia, misalnya membuang puntung rokok, membakar sampah, atau hubungan arus pendek listrik. Sedangkan untuk kebakaran rumpun bambu dan lahan tebu, umumnya dipicu kelalaian yang kemudian diperparah oleh hembusan angin sehingga api cepat merambat,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa kejadian masih dalam proses penyelidikan. Namun, cuaca panas dan angin kencang menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api sehingga petugas harus bekerja ekstra untuk mencegah kebakaran meluas.
Kaleb menyebut, 11 kejadian dalam sehari menjadi rekor tertinggi sepanjang tahun 2026 di Kabupaten Kediri.
“Ya, betul. Kemarin merupakan jumlah kejadian terbanyak dalam satu hari tahun ini. Mudah-mudahan cukup sampai di situ saja dan tidak bertambah lagi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.
Meski Satpol PP dan Damkar secara rutin menggelar sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat, sekolah hingga perusahaan, Kaleb menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka kebakaran sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
Ia mengimbau warga untuk tidak membakar sampah maupun sisa tanaman saat musim kemarau, tidak membuka lahan dengan cara dibakar, memastikan kompor tidak ditinggalkan dalam keadaan menyala, serta rutin memeriksa instalasi listrik di rumah.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Dengan langkah-langkah sederhana seperti tidak membakar sampah sembarangan dan memastikan instalasi listrik aman, risiko kebakaran dapat ditekan. Mari bersama-sama menjaga Kabupaten Kediri agar terhindar dari bencana kebakaran, terutama di tengah musim kemarau,” pungkas Kaleb.(sinyo)












