“Saya kira pembakaran sampah biasa di area persawahan seperti bakar daduk tebu. Namun setelah masuk kelas, ibu-ibu guru memberi tahu kalau api di belakang sudah membesar. Sontak kami panik,” ujar Muchlisin.
Situasi langsung berubah. Para guru berkoordinasi untuk memastikan siswa tetap tenang dan berada di lokasi aman.
Sebagian guru mendampingi siswa, sementara lainnya bersama warga berusaha memadamkan api agar tidak semakin mendekati bangunan utama sekolah.
Kekhawatiran terbesar saat itu adalah api merambat ke ruang kelas yang letaknya berdekatan dengan lokasi kebakaran.
“Yang penting anak-anak kami amankan dulu. Guru-guru langsung berbagi tugas,” jelas Muchlisin.
Muchlisin menjelaskan, material yang terbakar merupakan kayu bekas dari hasil rehabilitasi bangunan sekolah. Material tersebut belum sempat dimanfaatkan kembali maupun dimusnahkan karena masih harus melalui mekanisme penghapusan aset negara.
“Kayu-kayu itu merupakan aset lama sekolah dari hasil rehabilitasi. Belum bisa langsung dibuang karena harus melalui mekanisme penghapusan aset,” ungkapnya.
Meski api cukup besar, bangunan utama SDN Krecek 3 berhasil diselamatkan. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.
Kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp2 juta hingga Rp5 juta, berupa kerusakan material kayu bekas yang terbakar.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras di tengah kondisi kemarau. Angin kencang dan material kering membuat api dari pembakaran sampah sangat mudah berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
Pemerintah Kabupaten Kediri mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah maupun limbah pertanian, terutama di area yang berdekatan dengan permukiman, fasilitas umum, sekolah, maupun bangunan lainnya.(sinyo)












