Awalnya terdapat 46 sapi yang didaftarkan. Setelah pemeriksaan, tiga sapi dinyatakan tidak memenuhi persyaratan sehingga tidak diikutsertakan.
Dengan demikian, parade tahun ini diikuti sekitar 86 ekor sapi yang menarik 43 cikar.
Petugas kesehatan hewan melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi masing-masing sapi sebelum pelaksanaan parade. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit hewan menular, mengingat sapi-sapi tersebut akan berada di ruang publik dan berinteraksi dengan masyarakat.
Sapi yang tampil mayoritas merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman, termasuk hasil persilangan. Menariknya, sapi-sapi tersebut bukan sapi penggemukan, melainkan sapi yang memang telah terlatih untuk mengikuti kegiatan parade.
Sepanjang rute sekitar 5,5 kilometer, seluruh sapi mampu mengikuti parade hingga garis finis tanpa laporan sakit maupun gangguan kesehatan.
Tak hanya sapi dan cikar yang menjadi perhatian. Setiap peserta juga dituntut menampilkan kreativitas melalui muatan lokal.
Penilaian parade meliputi tiga aspek utama: performa sapi, kreativitas cikar, serta kelengkapan aksesori dan muatan lokal.
Produk pertanian dan peternakan Kabupaten Kediri pun turut menghiasi masing-masing cikar. Dengan begitu, parade tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi sekaligus menjadi etalase potensi lokal.
Saat ini, tradisi cikar masih bertahan di sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Kediri. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan peserta terbanyak, masing-masing sekitar 10 hingga 11 peserta.
Tutik berharap Parade Cikar dapat menjadi jembatan antara generasi masa lalu dan generasi masa kini.
“Budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, sehingga generasi sekarang juga mengetahui kebudayaan masa lalu. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi apresiasi bagi para peternak yang terus mempertahankan tradisi sekaligus semangat memelihara sapi,” pungkasnya.(sinyo)












