Namun, apakah kondisi makanan tersebut benar menjadi penyebab gangguan kesehatan para siswa masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Kediri, dr Ahmad Khotib, mengatakan pihaknya langsung melakukan investigasi setelah menerima laporan.
“Begitu ada laporan, kami langsung melakukan investigasi dan memastikan anak-anak yang mengalami gejala mendapatkan penanganan,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Satgas tidak hanya memastikan kondisi para siswa, tetapi juga mengamankan sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium Surabaya.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi penting untuk menjawab pertanyaan utama dalam kasus ini: apakah makanan MBG yang dikonsumsi siswa memang terkontaminasi dan berkaitan dengan munculnya gejala yang dialami mereka.
Di tengah proses investigasi, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Blaru diketahui berhenti sejak Senin (7/9).
Penghentian aktivitas dapur tersebut dibenarkan Kepala SPPG Blaru, Ervia Dwi Putra Hernanda. Namun, ia menyatakan penghentian bukan berkaitan dengan dugaan keracunan, melainkan karena adanya proyek pembangunan sehingga aktivitas dapur sementara dihentikan.
Perbedaan konteks ini menjadi perhatian. Di satu sisi, Satgas tengah melakukan investigasi atas dugaan kejadian keracunan dan mengirim sampel makanan ke laboratorium. Di sisi lain, pihak SPPG menyebut penghentian operasional disebabkan proyek pembangunan.(sinyo)












