Ia menambahkan, pendidikan karakter tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan berbagai pihak. Karena itu, sinergi antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Sarana juga mengapresiasi peran para guru dan tenaga kependidikan yang terus berupaya memberikan teladan melalui sikap, tutur kata, serta perlakuan yang adil kepada seluruh peserta didik.
“Keteladanan merupakan kunci. Anak-anak tidak cukup hanya diberi nasihat tentang toleransi, tetapi juga perlu melihat dan merasakan bagaimana sikap saling menghormati itu diterapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kami berharap seluruh warga sekolah terus menjaga komitmen ini agar nilai-nilai moderasi beragama benar-benar melekat dalam karakter peserta didik,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sarana menegaskan bahwa penghargaan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri tersebut tidak boleh membuat sekolah berpuas diri. Sebaliknya, capaian itu menjadi motivasi untuk terus melakukan evaluasi dan memperkuat praktik pendidikan yang menjunjung tinggi toleransi, persatuan, serta penghormatan terhadap keberagaman.
“Penghargaan ini bukan garis akhir. Justru menjadi amanah bagi kami untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dibangun. Kami ingin memastikan bahwa semangat moderasi beragama tidak berhenti pada seremoni penerimaan piagam dan trofi, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian warga sekolah,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor, prestasi perlombaan, maupun capaian akademik lainnya. Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat dari kemampuan peserta didik bersikap santun, menghormati orang lain, menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, serta menjaga persaudaraan meskipun memiliki perbedaan.
“Prestasi akademik memang penting, tetapi karakter yang baik menjadi bekal anak-anak untuk menjalani kehidupan. Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana, memiliki empati, menjunjung tinggi kemanusiaan, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, pihak sekolah menyampaikan terima kasih kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri atas apresiasi yang diberikan. Penghargaan ini diharapkan semakin memperkuat semangat seluruh warga SMPN 2 Kandangan untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna, berkarakter, dan menghargai keberagaman.
SMPN 2 Kandangan berkomitmen untuk terus membangun lingkungan sekolah yang damai, ramah anak, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.
Bagi Sarana, esensi moderasi beragama terletak pada kemampuan setiap individu untuk tetap teguh menjalankan keyakinannya sekaligus menghormati hak orang lain untuk hidup dalam perbedaan.
“Harapan kami sederhana, tetapi sangat penting: anak-anak bisa belajar dengan aman, berteman tanpa membeda-bedakan, saling menghargai, dan tumbuh menjadi generasi yang membawa kedamaian. Sebab, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan juga tempat belajar menjadi manusia yang menghormati sesama,” pungkasnya.(sinyo)












