Mediaciber.net.Kediri
Jemarinya mungkin masih mungil untuk menggenggam busur biola. Namun, semangatnya begitu besar untuk menaklukkan setiap tantangan. Di usianya yang baru sembilan tahun, Almira Carita Shanum telah menunjukkan bahwa kelembutan dan ketangguhan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Di satu sisi, ia belajar merangkai nada melalui gesekan biola. Di sisi lain, ia menempa keberanian dan kedisiplinan lewat gerakan seni bela diri pencak silat. Dua dunia yang berbeda itu kini menjadi bagian dari perjalanan masa kecilnya.
Siswi kelas III SD Islam Al-Fath, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, ini bukan anak yang hanya ingin mencoba sesuatu. Ia memiliki kemauan untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Bakat Almira pun tidak hanya terbatas pada musik dan bela diri. Seni tari dan tarik suara juga pernah menjadi ruang baginya untuk berekspresi. Berbagai pengalaman tersebut mengantarkannya meraih sejumlah prestasi. Deretan piala dan penghargaan yang tersimpan di rumah menjadi bukti dari proses panjang yang telah dilaluinya.
Namun, bagi Almira, setiap pencapaian bukanlah alasan untuk berhenti. Justru dari sanalah muncul keinginan untuk terus belajar dan menjadi lebih baik.
Ketertarikannya terhadap dunia seni mulai tumbuh sejak duduk di bangku kelas II sekolah dasar. Musik menjadi salah satu bidang yang menarik perhatiannya. Dari berbagai pilihan, biola akhirnya menjadi alat musik yang berhasil mencuri hatinya.
Ada keistimewaan yang ia rasakan ketika menggesekkan busur pada senar biola. Sebuah nada tidak bisa muncul begitu saja dengan indah. Dibutuhkan kesabaran, ketelitian, konsentrasi, serta latihan berulang-ulang untuk menghasilkan alunan yang harmonis.
Di situlah Almira mulai belajar bahwa sesuatu yang indah membutuhkan proses. Tidak selalu mudah, bahkan terkadang harus mengulang gerakan yang sama berkali-kali hingga benar-benar dikuasai.

Dalam sepekan, ia menyisihkan sekitar dua jam untuk berlatih biola. Waktu yang sama juga dialokasikan untuk mengasah kemampuan pencak silat.
Dua kegiatan itu menjadi bagian dari rutinitas yang mengajarkannya mengatur waktu sekaligus menjaga konsistensi.
Jika biola membawanya mengenal kelembutan, harmoni, dan penghayatan, pencak silat justru mengajarkannya ketegasan, keberanian, serta pengendalian diri.
Di bidang olahraga bela diri, Almira bergabung dengan perguruan Perisai Diri. Kesungguhannya dalam berlatih mulai membuahkan hasil. Ia berhasil meraih Juara I kategori gerakan seni tingkat pemula.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian membanggakan bagi seorang anak seusianya. Bukan semata-mata karena berhasil membawa pulang piala, melainkan karena ada keberanian untuk tampil, kemauan untuk berlatih, dan kesungguhan dalam menghadapi tantangan.
Meski telah merasakan manisnya kemenangan, Almira tidak ingin cepat berpuas diri. Ia memahami bahwa masih banyak teknik yang harus dipelajari dan kemampuan yang perlu ditingkatkan.
Menariknya, dari dua bidang yang ditekuninya, Almira justru menemukan pelajaran tentang kehidupan.
“Bermain biola dan pencak silat memang terlihat berbeda. Tetapi, dalam pencak silat juga ada kelembutan. Begitu juga saat memainkan biola, diperlukan ketegasan dan konsentrasi agar menghasilkan sesuatu yang baik,” ungkapnya.
Pernyataan sederhana itu memperlihatkan cara pandangnya yang menarik. Baginya, kelembutan bukan berarti lemah, sebagaimana ketegasan tidak harus menghilangkan keindahan.
Ada keseimbangan yang bisa dipelajari dari keduanya. Ketika memainkan biola, ia harus mampu mengendalikan jemari dan perasaan. Sementara saat berlatih pencak silat, ia dituntut menguasai gerakan, menjaga fokus, serta memahami disiplin.












