Pedagang Meluber, Bongkar Muat Terganggu! Pasar Induk Pare Diperluas, Pemkab Kediri Kejar Target 26 November

admin
Img 20261106 Wa0001

Penataan pedagang nantinya juga tidak dilakukan melalui sistem undian. Disdagperin akan menggandeng paguyuban pedagang untuk menentukan penempatan berdasarkan jenis komoditas yang dijual.

Dengan sistem zonasi, pedagang yang menjual komoditas sejenis akan ditempatkan dalam satu kawasan. Skema ini diharapkan memudahkan pembeli, khususnya pedagang dari luar daerah, dalam mencari komoditas sekaligus melakukan transaksi dalam jumlah besar.

“Di sana pedagang besar, jadi tidak pakai undian. Nanti kami kumpulkan. Sudah ada paguyuban, biar teman-teman paguyuban membantu penataan. Komoditas juga harus seragam. Misalnya cabai tidak berada dalam satu lokasi, itu akan menyulitkan pedagang luar yang mau masuk,” terangnya.

Tak hanya membangun los, Pemkab Kediri juga menyiapkan akses jalan baru di sisi barat pasar dengan lebar sekitar 8 hingga 9 meter. Jalan tersebut dirancang agar kendaraan besar, termasuk truk pengangkut komoditas, bisa masuk dan bermanuver lebih leluasa.

Selama ini, arus kendaraan dan aktivitas bongkar muat lebih banyak terkonsentrasi di bagian tengah serta timur pasar. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penumpukan kendaraan, terutama ketika aktivitas perdagangan sedang tinggi.

Dengan dibukanya akses barat, distribusi kendaraan diharapkan lebih merata. Aktivitas bongkar muat yang selama ini terpusat di tengah dapat dialihkan sebagian ke sisi barat.

“Kalau barat nanti sudah bisa difungsikan untuk bongkar muat, bisa mengurangi aktivitas yang di tengah. Jadi, di tengah juga nantinya satu sisi, sementara sisi lainnya pindah ke sebelah barat,” kata Tutik.

Meski progres pembangunan sudah mencapai lebih dari 67 persen, pekerjaan yang tersisa tetap membutuhkan perhatian serius. Pemasangan atap berbahan spandek disebut tinggal memasuki tahap penyelesaian karena material sudah tersedia. Sementara pengecoran lantai dan pemasangan paving masih harus dikebut.

Faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Hujan yang mulai beberapa kali mengguyur wilayah Pare berpotensi menghambat pekerjaan konstruksi, terutama pada bagian yang membutuhkan kondisi lapangan kering.

Disdagperin pun meminta kontraktor mengoptimalkan metode kerja dan melakukan percepatan. Pengawasan terus dilakukan agar kendala teknis maupun cuaca tidak berdampak pada penyelesaian proyek.

“Sebetulnya tidak banyak, hanya memang perlu upaya pengendalian dan percepatan. Kami mohon kontraktor juga memahami karena musim hujan sudah mulai beberapa kali terjadi di Pare. Ini menjadi perhatian kami untuk terus melakukan mitigasi dan percepatan,” ungkapnya.

Tutik menegaskan, hingga saat ini pelaksanaan proyek masih mengacu pada jadwal kontrak. Pemkab Kediri tidak ingin munculnya pekerjaan tambahan justru mengganggu target penyelesaian yang telah ditetapkan.

“Sekarang kami harus lebih berhati-hati. Jangan sampai tambahan pekerjaan justru membuat target awal tidak terpenuhi. Selama ini masih on the track, insyaallah terakhir 26 November kalau sesuai kontrak kami,” pungkasnya.(sinyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maling yo..!!