Bongkar Ratun Dimulai, Jatim Optimistis Wujudkan Swasembada Gula Nasional 2026

admin
Img 20260523 Wa0013

Mediaciber.net.Kediri.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi memulai program bongkar ratoon (bongkar ratun) tebu sebagai langkah percepatan menuju swasembada gula nasional. Kegiatan tanam perdana dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Kebun TR Pabrik Gula Ngadiredjo, Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5/2026).

Program tersebut dilaksanakan serentak di 15 titik yang tersebar di 11 kabupaten di Jawa Timur. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah bersama Kementerian Pertanian RI dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) untuk mempercepat target swasembada gula konsumsi nasional yang sebelumnya ditargetkan tercapai pada 2028, kini diproyeksikan bisa terealisasi pada 2026.

Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur memegang peran vital sebagai tulang punggung produksi gula nasional dengan kontribusi sekitar 85 persen terhadap produksi gula Indonesia. Karena itu, pembenahan sektor tebu harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari budidaya hingga hilirisasi industri.

Menurutnya, persoalan gula nasional bukan hanya soal harga jual yang rendah, tetapi juga lemahnya perlindungan pasar bagi gula produksi petani. Ia menyoroti masih masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi yang dinilai membuat gula lokal sulit bersaing.

“Kalau gula rafinasi masuk pasar konsumsi, gula petani tidak akan bisa bersaing. Target swasembada harus satu paket dengan penguatan ekosistem,” tegas Khofifah.

Direktur PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, mengungkapkan bahwa program bongkar ratun mengalami peningkatan signifikan pada tahun ini. Jika pada 2025 luas lahan bongkar ratun hanya mencapai 11 ribu hektare, maka pada 2026 meningkat drastis menjadi 54 ribu hektare atau hampir lima kali lipat.

Ia menjelaskan, kualitas tanaman tebu menjadi faktor utama dalam peningkatan produksi gula. Sekitar 80 persen rendemen ditentukan oleh kualitas tanaman, sedangkan kontribusi pabrik hanya sekitar 20 persen.

“Pembaruan varietas dan bongkar ratun adalah kunci peningkatan produksi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maling yo..!!