Selain fokus pada peningkatan produksi gula, SGN juga menyiapkan pembangunan pabrik etanol di Kediri bekerja sama dengan Pertamina sebagai bagian dari hilirisasi industri tebu nasional.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Heri Suseno, mengatakan percepatan bongkar ratun sangat penting untuk memenuhi kapasitas giling pabrik sekaligus meningkatkan produktivitas tebu rakyat.
Kabupaten Kediri sendiri menargetkan program bongkar ratun mencapai 7 ribu hektare pada 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.192 hektare telah mengantongi SK CPCL. Tahun sebelumnya, Kabupaten Kediri tercatat sebagai daerah dengan luas bongkar ratun terbesar secara nasional, yakni mencapai 3.864 hektare.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga memperkuat dukungan bagi petani melalui bantuan alat dan mesin pertanian serta pembangunan ratusan sumur submersible guna mengantisipasi ancaman kekeringan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menyebutkan sebanyak 286 titik sumur submersible telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan air pertanian tahun ini.
Meski demikian, petani masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan, seperti serangan hama uret dan tingginya biaya panen. Ketua Kelompok Tani Astama Adijaya Radikatani, Teguh Budiono, berharap pengendalian hama dilakukan secara serentak serta dukungan alat modern pertanian terus diperkuat.
“Kalau pengendalian hama tidak dilakukan serentak, uret akan berpindah-pindah. Selain itu, tenaga panen sekarang juga mahal dan sulit didapat,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, dan petani, Jawa Timur optimistis mampu menjadi motor utama dalam mewujudkan swasembada gula nasional. Target swasembada gula 2026 yang sebelumnya dianggap ambisius kini mulai terlihat semakin realistis.(sinyo)












