Mediaciber.net.Kediri,
Musim giling tebu yang kembali berlangsung di PG Pesantren Baru Kediri kembali membawa keresahan bagi warga di sejumlah wilayah sekitar pabrik. Hujan debu lantung atau abu hitam sisa pembakaran tebu dilaporkan kembali menyelimuti permukiman warga di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, hingga Dusun Loksongo, Desa Tugurejo, Kabupaten Kediri.
Warga mengeluhkan partikel abu yang beterbangan hampir setiap hari, terutama pada pagi dan malam hari. Abu hitam tersebut menempel di atap rumah, kendaraan, jemuran pakaian, hingga masuk ke dalam rumah warga.
“Sapu pagi, siang sudah kotor lagi. Jemuran yang baru dicuci sering harus dicuci ulang karena terkena abu hitam,” keluh salah seorang warga Lingkungan Dander, Kelurahan Ketami.
Keluhan serupa juga disampaikan warga Dusun Loksongo. Mereka mengaku setiap musim giling harus hidup berdampingan dengan polusi udara yang dinilai mengganggu kenyamanan dan kesehatan keluarga.
Menurut warga, persoalan ini bukan hal baru. Setiap tahun saat musim giling dimulai, hujan abu selalu menjadi langganan. Namun hingga kini mereka menilai belum ada solusi yang benar-benar efektif untuk mengatasi dampak pencemaran tersebut.
Selain mengotori lingkungan, warga juga mengkhawatirkan dampak kesehatan akibat paparan abu pembakaran tebu dalam jangka panjang. Anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan disebut menjadi kelompok yang paling rentan.












