Kaur Kesra, Hariyanto yang mengantarkan kami ke lokasi mengatakan, jika rabat beton itu di bangun di Dusun Kebonsari, Rt.01, Rw.07, dengan volume 743 x 0,5 x 0,1 M. dan satunya lagi akan di bangun di Dusun Mronjo, Rt.01, Rw.01 dengan volume 368 x 1,25 x 0,1 M.
Mengenai jumlah anggarannya di masing-masing titik, ia bilang ia tidak tahu. “Silahkan tanya ke pak Carik atau pak Kades saja pak soal itu, saya tidak tahu,” jawabnya.
Kemudian setelah pertemuan dengan Kepala Desa baru kami diberitahu, bahwa banner informasi publik memang belum dipasang dan masih terlipat dibawah meja. “Untuk papan informasi belum di pasang, karena yang akan memasang lagi sakit, ini bannernya,” kata Fatoni sembari menyerahkan ke kami.
Kamipun kemudian membuka lipatan banner tersebut dan melihat ada dua banner yang masing-masing nilai anggarannya tertera, untuk rabat beton di Dusun Kebonsari anggarannya sejumlah Rp.64.842.000, – sedangkan yang di Dusun Kebonrejo sebesar Rp.65.600.000, –
Namun, lebih lanjut Kepala Desa Ahmad Fatoni juga menunjukkan satu lagi banner, yang memberi informasi tentang pekerjaan rabat beton yang “akan” di kerjakan, katanya menggunakan dana 20 persen program ketahanan pangan dan hewani digabung dengan anggaran perubahan dari sebagian dana 8 persen untuk penanganan COVID-19. Yaitu untuk pembangunan rabat jalan pertanian di Dusun Mronjo, berupa Talud P, volume 2 x 175 M, rabat volume 175 x 1,5 x 0,1 M, dan rabat volume 150 x 0,5 x 0, 1 M, dengan anggaran Rp. 92.856.000,-

Dengan adanya temuan ini di lapangan, patut di duga ada ketidaksesuaian antara harapan warga dengan perealisasian anggaran. Sudah selayaknya, apabila hal ini menjadi perhatian pihak – pihak terkait. Khususnya dari inspektorat Kabupaten Blitar sebagai pengawas dan menilai baik buruknya suatu pekerjaan anggaran dari pemerintah pusst maupun daerah, ” pungkasnya ( Hary)












