Rayyan kemudian dilarikan ke RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) dalam kondisi kritis. Sementara dua rekannya mendapatkan perawatan di RS Pelem, Pare. Namun, nyawa Rayyan tak tertolong. Ia menghembuskan napas terakhir pada Selasa pagi dan telah dimakamkan siang harinya.
Kejadian kemudian dilaporkan ke Polsek Pagu dan dilimpahkan ke Polres Kediri. Saat dikonfirmasi, Kanit PPA Satreskrim Polres Kediri, Ipda Hery Wiyono, membenarkan adanya kejadian ini dan pihaknya masih melakukan penyelidikan.
“Pelaku masih dalam lidik, mas,” terangnya.
Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan yang diduga melibatkan kelompok perguruan silat di Kediri. Dalam unggahannya, Bambang Rukminto juga menyoroti bagaimana konflik semacam ini terus berulang namun jarang mendapat perhatian serius.
“Kediri, kota kecil di Jawa Timur yang dinobatkan Setara Institute sebagai Kota Paling Toleran 2021, ternyata menyimpan problem di dalamnya. Konflik antar anggota perguruan silat seringkali terjadi dan menimbulkan korban jiwa,” tulisnya.
Ia juga mempertanyakan minimnya pemberitaan atas insiden ini.
“Sehari kemarin, saya cermati media. Saya tak menemukan ada berita maupun informasi terkait insiden ini. Apakah kasus pengeroyokan seperti ini sudah terlalu jamak sehingga tak lagi layak berita?”
Hingga saat ini, polisi masih memburu pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut. Sementara keluarga korban berharap ada keadilan bagi Rayyan, yang menjadi korban kebrutalan di tengah bulan Ramadhan.(sinyo)












