Ia juga menambahkan bahwa pihaknya ingin menjadikan kegiatan seperti ini sebagai langkah berkelanjutan.
“Kami percaya, ketika budaya dijaga dan masyarakat didukung, dampaknya akan jauh lebih besar dari sekadar acara. Spiderwave hadir untuk ikut menggerakkan itu dari desa, untuk masa depan,” imbuh Agus dengan penuh semangat.
Pagelaran Jaranan Putro Bathoro sendiri sukses memikat perhatian. Dentuman musik tradisional, gerakan penari yang enerjik, hingga nuansa magis khas jaranan membuat penonton terpukau.
Kehadiran Spiderwave di Desa Dukuh pun mendapat respons positif. Warga merasa diperhatikan, sekaligus bangga karena desanya menjadi pusat kegiatan yang menggabungkan budaya, hiburan, dan kebersamaan.
Dengan semangat pasca Lebaran, Spiderwave membuktikan bahwa kehadiran perusahaan bisa lebih dari sekadar nama melainkan menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.(sinyo)












