Mayoritas siswa berasal dari keluarga buruh tani, pedagang kecil, dan pekerja serabutan yang sebelumnya nyaris tidak memiliki peluang untuk mengenyam pendidikan berkualitas.
“Tiga tahun lalu, mereka seperti tidak ada harapan untuk melanjutkan sekolah. Tapi kini mereka telah membuktikan kesiapannya menjadi calon mahasiswa baru,” kata Mas Dhito.
Menurutnya, keberhasilan para siswa membuktikan bahwa kesempatan yang setara mampu melahirkan prestasi luar biasa.
“Ini membuktikan bahwa mereka yang ada di Desil 1 memiliki hak yang sama. Saat mereka masuk tidak punya mimpi untuk lanjut, dan begitu kita tempa selama tiga tahun, buktinya hari ini mereka bisa lanjut ke perguruan tinggi,” tegasnya.
Mas Dhito juga memastikan sekolah tersebut akan tetap mempertahankan misi sosialnya.
“Sekolah ini tidak boleh menjadi sekolah komersial, hanya khusus anak-anak Desil 1,” tandasnya.
Di antara deretan kisah sukses lulusan angkatan pertama, nama Aditya Wahyu Pratama menjadi salah satu yang paling menyita perhatian.
Putra keluarga buruh tani itu berhasil menembus Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu program studi paling kompetitif di Indonesia.
Perjalanan Aditya tidak mudah. Ketika banyak temannya telah lebih dulu diterima di perguruan tinggi, ia masih harus berjuang menghadapi berbagai seleksi untuk mengejar kampus impiannya.
“Awalnya saya merasa masih kurang, tapi terus saya kejar impian saya walaupun terasa impian itu mustahil bagi saya,” ungkap Aditya dengan mata berkaca-kaca.
Keberhasilan Aditya menjadi simbol bahwa mimpi besar tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga, melainkan oleh kesempatan, kerja keras, dan ketekunan.
Kesuksesan angkatan pertama SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School menjadi bukti bahwa investasi pendidikan mampu menjadi instrumen paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Dari anak-anak yang semula nyaris kehilangan harapan untuk melanjutkan sekolah, kini lahir calon-calon sarjana yang siap bersaing di tingkat nasional.
Mas Dhito turut menyampaikan apresiasi kepada Putra Sampoerna Foundation (PSF) dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan sekolah berasrama tersebut.
Ia berharap para lulusan mampu memanfaatkan kesempatan yang telah diraih untuk meraih masa depan yang lebih baik sekaligus mengangkat derajat keluarga mereka.
“Melalui pendidikan, saya berharap mereka bisa menjadi generasi yang sukses, mandiri, dan mampu mengubah kehidupan keluarganya di masa depan,” pungkasnya.(sinyo)












