
Salah satu siswa kelas VIII, Quratul Uyun Naura, mengaku bangga bisa terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Lewat Jumat Budaya, saya jadi lebih percaya diri menggunakan bahasa Jawa. Ternyata berbicara dengan unggah-ungguh itu membuat kita lebih sopan dan menghargai orang lain. Saya juga jadi lebih paham arti penting menjaga budaya sendiri,” ujarnya.
Program Jumat Budaya menjadi bukti bahwa sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan benteng penjaga nilai-nilai budaya. Di SMPN 1 Pagu, budaya Jawa bukan hanya materi pelajaran—ia adalah napas yang dihidupkan bersama, rutin, dan penuh kebanggaan.
Langkah kecil yang dilakukan setiap awal bulan ini mengirim pesan besar: menjaga budaya bukan tugas masa lalu, melainkan tanggung jawab hari ini.(sinyo)












