Namun, menurut Dhavid, hambatan itu dijawab dengan penyesuaian jadwal dan penguatan budaya gotong royong antara TNI dan masyarakat.
“Harapan kami, pembangunan desa dipercepat, kesejahteraan meningkat, dan kemanunggalan TNI dengan rakyat semakin kokoh,” ujarnya optimistis.
Ketua Tim Wasev Mabesad, M. Herry Subagyo (Brigjen TNI M. Herry Subagyo), mengapresiasi capaian progres TMMD ke-127 di Kediri. Namun ia mengingatkan, kekuatan utama TMMD bukan hanya pada beton dan aspal, melainkan pada nilai kebersamaan.
“Program TMMD harus dioptimalkan agar generasi muda ikut berperan. Kalau tidak dilibatkan, wawasan kebangsaan dan pemahaman peran TNI bisa semakin berkurang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak memandang TMMD sebagai proyek kontraktual semata.
“Harus ada rasa memiliki. Jika warga terlibat langsung, hasil pembangunan akan dirawat dan berkelanjutan,” tandasnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya sinkronisasi lintas sektoral di tengah tantangan fiskal dan dinamika global. TMMD, menurutnya, harus memberi dampak jangka panjang bagi ketahanan wilayah, bukan hanya capaian fisik jangka pendek.
Usai pemaparan, Tim Wasev Mabesad meninjau langsung lokasi TMMD di Lapangan Dusun Sumber Bahagia, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. Kunjungan tersebut dihadiri jajaran TNI AD, Kodam V/Brawijaya, Kodim 0809/Kediri, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Kediri dan perangkat desa.
TMMD ke-127 di Kediri pun bukan sekadar program tahunan. Ia menjadi simbol nyata kemanunggalan TNI dan rakyat bergerak bersama, membangun dari desa, untuk Indonesia yang lebih kuat.(sinyo)












