Kepala SMPN 1 Kunjang, Kristien Endah Riwayati, menegaskan bahwa Talibuy bukan sekadar kegiatan menanam, tetapi strategi pendidikan untuk menyiapkan generasi masa depan yang berakar kuat pada identitas lokal namun siap menghadapi tantangan global.
“Sekolah tidak boleh terlepas dari realitas lingkungan tempat siswa hidup. Ketika anak memahami potensi daerahnya, mereka tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga membangun rasa memiliki, kebanggaan, dan tanggung jawab terhadap masa depan daerahnya sendiri,” tegasnya.
Ia menilai pendidikan modern harus bergerak melampaui pembelajaran teoritis.
“Kami ingin sekolah menjadi ruang lahirnya solusi, bukan hanya tempat menerima materi. Melalui Talibuy, siswa belajar kolaborasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga kewirausahaan. Inilah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21,” ujarnya.
Menurut Kristien, pendekatan berbasis proyek yang melibatkan dunia industri dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan pembelajaran bermakna.
“Jika pendidikan ingin berdampak, maka sekolah harus berani keluar dari zona nyaman. Talibuy adalah upaya kami menghadirkan pendidikan yang hidup belajar dari tanah sendiri, membangun masa depan dari potensi lokal,” tambahnya.
Program Talibuy dinilai sebagai praktik baik pendidikan nasional karena mampu menghubungkan sekolah, dunia usaha, dan masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran nyata. Dari halaman sekolah di Kunjang, sebuah pesan kuat muncul: pendidikan Indonesia dapat maju dengan tetap berpijak pada kekayaan budaya dan lingkungan lokal.(sinyo)












