Mediaciber.net.Kediri – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya populer, SMPN 1 Pagu memilih berdiri tegak menjaga akar tradisi. Melalui program bertajuk Jumat Budaya, sekolah ini konsisten menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa setiap Jumat pada minggu pertama tiap bulan.
Program ini bukan sekadar seremoni simbolik. Sejak pagi, wajah sekolah berubah total. Balutan busana adat, lantunan tembang, hingga ragam pertunjukan kesenian tradisional menciptakan atmosfer Jawa yang kental. Tari tradisional, pembacaan geguritan, hingga pementasan seni khas Jawa menjadi ruang ekspresi generasi muda untuk merawat warisan leluhur.
Yang paling membedakan, seluruh warga sekolah—siswa, guru, hingga tenaga kependidikan—wajib menggunakan bahasa Jawa dalam setiap komunikasi sepanjang kegiatan berlangsung. Pembiasaan ini bukan hanya formalitas, melainkan strategi konkret agar bahasa daerah tetap hidup di tengah generasi digital yang akrab dengan bahasa gaul dan istilah asing.
Kepala sekolah SMPN 1 Pagu, Tri Utami menegaskan, Jumat Budaya lahir dari kegelisahan akan mulai pudarnya penggunaan bahasa dan pemahaman budaya Jawa di kalangan pelajar. Program ini menjadi langkah nyata nguri-uri budaya sekaligus membangun karakter siswa agar santun, beretika, dan bangga terhadap identitas lokal.
“Bahasa Jawa mengajarkan tata krama dan unggah-ungguh. Di situlah pendidikan karakter tumbuh,” ungkapnya. Jumat (13/2/2026).
Antusiasme siswa terlihat tinggi. Mereka bukan sekadar penonton, melainkan pelaku aktif pelestarian budaya. Kreativitas diberi ruang tanpa meninggalkan pakem tradisi. Sekolah memastikan seni dan budaya lokal tidak hanya dikenang, tetapi dipraktikkan dan diwariskan.












