“Yang sakit kami tunda sampai sembuh, nanti kami layani saat proses penyisiran,” ucap Desi.
Anak-anak yang belum vaksin kedua bisa mengakses di Puskesmas terdekat.
Anak-anak yang sudah terdata akan dijadwalkan karena terkait vial vaksin yang akan disiapkan.
Setelah selesai penyisiran dan proses penjangkauan, maka vaksin akan ditarik.
“Kami berharap semua akan selesai 100 persen. Kami juga terus memantau dan evaluasi pelaksanaan di lapangan,” tegas Desi.
Sejauh ini Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) hanya 10 anak.
Jumlah ini menurun dibanding pelaksanaan sebelumnya yang mencapai 54.
Namun semua KIPI terjadi karena ada penyakit lain, bukan semata karena vaksin.
“Tidak ada KIPI yang murni karena vaksin. Semua karena ada penyakit lain yang menyertai,” pungkas Desi.
Virus Polio adalah penyakit menular yang menyebabkan gangguan saraf dan kelumpuhan permanen.
Penyakit ini tidak bisa diobati namun bisa dicegah dengan pemberian vaksin Polio.
Virus Polio berkembang di usus lalu ikut dikeluarkan melalui tinja.
Virus ini bisa mencemari air dan tanah, terutama karena kebiasaan buang air besar sembarangan.
Virus ini bisa menginfeksi anak yang minum dari air yang terkontaminasi tadi, atau menempel di tangan usai menyentuh air atau tanah yang sudah tercemar.(als).










