Mediaciber.net.Lamongan – Kabar baik datang untuk peternak ayam broiler di Kabupaten Lamongan. Melalui rapat audiensi yang digelar di Ruang Banggar DPRD Lamongan, sejumlah solusi konkret berhasil dirumuskan untuk mengatasi berbagai masalah yang selama ini membelit para peternak.
Rapat ini dihadiri oleh Komisi B DPRD Lamongan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan, serta Perkumpulan Peternak Rakyat (Pejuang FCR) Kabupaten Lamongan.
Ketua Komisi B DPRD Lamongan, Supono, menegaskan komitmen pihaknya untuk memberikan dukungan nyata bagi kesejahteraan peternak. Salah satu isu utama yang menjadi fokus pembahasan adalah regulasi penggunaan LPG dan solar bersubsidi.
“Kami akan berusaha memfasilitasi solusi terkait penggunaan LPG dan solar bersubsidi yang selama ini menjadi kendala utama peternak. Kami juga berkomitmen mempercepat penyelesaian masalah ini bersama pihak terkait,” ujar Supono dari Fraksi PDI Perjuangan, Rabu (8/1/2025).
Selain regulasi energi bersubsidi, Supono meminta Disnakeswan lebih aktif memberikan pendampingan teknis kepada peternak. “Kami berharap Dinas bisa turun ke bawah untuk memberikan bantuan berupa edukasi, penyediaan obat-obatan, dan sosialisasi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Pejuang FCR Lamongan, Aminarto, yang juga seorang peternak dari Desa Pangkatrejo, Kecamatan Sugio, mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi para peternak sebenarnya sudah berlangsung lama.
“Permasalahan LPG dan solar bersubsidi ini berkaitan dengan regulasi. Selain itu, kami juga membutuhkan solusi terkait akses permodalan dan pengolahan limbah,” ujar Aminarto.
Ia menambahkan, beberapa peternak kerap menghadapi tekanan dari oknum tertentu yang mempersoalkan penggunaan LPG bersubsidi. “Oknum-oknum tersebut bahkan meminta uang damai yang jumlahnya tidak sedikit. Kami berharap Komisi B dan Disnakeswan bisa membantu agar kami bisa bekerja dengan tenang,” katanya.
Disnakeswan dan Komisi B DPRD Lamongan berkomitmen membantu proses perizinan, memberikan solusi terkait pengolahan limbah, dan memfasilitasi akses permodalan. Sementara itu, untuk masalah regulasi LPG dan solar bersubsidi, akan ada tindak lanjut berupa pertemuan lanjutan dengan pihak-pihak terkait.
“Alhamdulillah, kami mendapatkan banyak solusi, mulai dari bantuan perizinan hingga pengolahan limbah. Ini sangat membantu kami untuk terus menjalankan usaha,” kata Aminarto.
Salah satu hasil audiensi yang menarik perhatian adalah rencana mengadakan pertemuan rutin atau Kopi Darat (Kopdar) setiap dua bulan sekali. Hal ini bertujuan untuk menampung permasalahan yang dihadapi peternak secara langsung dan mencari solusi bersama.
“Kami menyambut baik rencana Kopdar ini. Selama ini, kami sudah sering berkumpul dengan sesama peternak. Namun, dengan adanya Kopdar yang melibatkan Disnakeswan dan DPRD, kami yakin solusi yang diberikan akan lebih konkret,” ujar Aminarto.
Sedangkan, Kepala Disnakeswan Lamongan, Shofiah Nurhayati, menegaskan komitmennya untuk mendukung para peternak dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas mereka.
Shofiah menjelaskan bahwa persoalan utama yang dihadapi peternak ayam broiler adalah terkait penggunaan LPG subsidi 3 kg dan biaya penggunaan Air Bawah Tanah (ABT).












