Poster itu ditutup dengan kalimat: “Atas nama rakyat Jawa Timur.”
Menurut Cak Sholeh, gerakan ini terinspirasi dari aksi masyarakat di Pati, Jawa Tengah, yang dinilai berhasil menekan pemerintah daerah. Ia berharap gerakan di Jatim dapat menghadirkan perubahan signifikan dan memaksa pemerintah provinsi lebih berpihak kepada rakyat.
Namun, seruan tersebut mendapat penolakan keras dari Pemuda Pancasila (PP) Kota Surabaya. Sekretaris DPC Pemuda Pancasila Surabaya, Baso Juherman, menegaskan pihaknya tidak rela Surabaya dijadikan panggung oleh kelompok yang hanya mencari popularitas pribadi.
“Kami dari Pemuda Pancasila Kota Surabaya tidak rela kota Surabaya dikotori oleh aksi-aksi yang merusak. Kami juga akan bergerak mendukung Bu Gubernur dan mengusir pendemo yang hanya mencari popularitas pribadi,” tegas Baso Juherman, Sabtu (23/8/2025).
Ia menambahkan, masyarakat sudah mengetahui bahwa Gubernur Khofifah bekerja keras setiap hari untuk kemajuan Jawa Timur.
“Semua orang tahu Bu Khofifah bekerja total untuk rakyat. Kami akan berdiri di belakang beliau,” imbuhnya.
Dengan adanya dua arus yang saling berseberangan ini, suasana politik Jawa Timur menjelang 3 September diprediksi akan semakin memanas. Sementara pihak pendukung aksi Cak Sholeh terus menggalang massa, Pemuda Pancasila Surabaya memastikan akan menjaga kondusivitas Kota Pahlawan dari segala bentuk aksi yang dinilai merusak ketertiban.(aji)












