“Saya justru bingung, karena koordinator tidak menyampaikan apa pun ke saya. Saya belum tahu apa-apa soal ini, makanya kaget kok sudah ada video. Kalau pun harus ditanggulangi, saya bisa mengganti. Tapi dari pihak sekolah tidak ada laporan,” ungkapnya.
Wisnu juga menyampaikan bahwa kemungkinan ulat berasal dari bahan sayuran, mengingat skala produksi yang mencapai ribuan ompreng setiap hari.
“Namanya juga melayani lebih dari seribuan ompreng, pengelolaan dilakukan malam hari. Tapi alhamdulillah kami sebenarnya sudah mengantisipasi,” tambahnya.

Meski demikian, muncul pertanyaan serius dari publik terkait pengawasan mutu, alur pelaporan, serta standar keamanan pangan dalam pendistribusian makanan bagi siswa. Ketidaksinkronan pernyataan antara pihak sekolah dan penyedia dinilai menunjukkan lemahnya koordinasi serta kontrol kualitas.
Kasus ini diharapkan menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pihak sekolah, penyedia, maupun instansi terkait agar kejadian serupa tidak terulang. Terlebih, makanan yang dikonsumsi siswa seharusnya memenuhi standar kebersihan dan kesehatan tanpa kompromi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan maupun instansi pengawas pangan terkait tindak lanjut atas temuan tersebut.












