Lebih dari sekadar penanganan, Dinas Pendidikan juga menekankan langkah pencegahan, terutama menjelang dan setelah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Deteksi dini akan difokuskan pada siswa di jenjang akhir, seperti kelas 6 SD, guna mengidentifikasi potensi putus sekolah.
“Guru harus mampu mendeteksi sejak dini siswa yang berpotensi tidak melanjutkan pendidikan, sehingga bisa segera dilakukan intervensi,” tambahnya.
Faktor ekonomi, lanjut Muhsin, masih menjadi penyebab dominan anak tidak melanjutkan sekolah. Untuk itu, pemerintah daerah telah menyiapkan skema dukungan konkret bagi keluarga yang membutuhkan.
“Jika kendalanya ekonomi, seperti tidak mampu membeli seragam atau perlengkapan sekolah, maka akan kami bantu melalui beasiswa maupun bantuan kebutuhan dasar pendidikan,” tegasnya.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan kolaboratif, pihaknya optimistis angka anak tidak sekolah dapat ditekan secara signifikan dalam waktu singkat.
“Kami berharap pada Agustus mendatang tidak ada lonjakan angka anak tidak sekolah, karena potensi tersebut sudah kita antisipasi sejak awal,” pungkasnya.(sinyo)












