Menanggapi berbagai sorotan tersebut, Kabag Perekonomian Kabupaten Kediri, Santoso, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan SLG memang masih menghadapi sejumlah tantangan.
Ia mengungkapkan relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) sempat terkendala keterbatasan lapak yang hanya tersedia sebanyak 212 unit. Selain itu, banyak pedagang khawatir lokasi baru tidak mampu mendatangkan pembeli.
Pemerintah, lanjut Santoso, telah membagi kawasan menjadi tiga zona utama, yakni zona Pasar Ikan, UMKM, dan Satwa. Namun hingga kini baru sektor Pasar Ikan yang menunjukkan komitmen kuat untuk menempati area tersebut secara penuh.
Untuk meningkatkan kunjungan, pemerintah bersama Dinas Perikanan terus melakukan promosi dan berbagai upaya aktivasi kawasan.
Santoso juga menjelaskan bahwa keberadaan Wahana Rakyat Creative Market (RCM) yang sebelumnya menuai keluhan akibat kemacetan di depan Polsek SLG kini telah dipindahkan ke area parkir bagian dalam. Kebijakan tersebut diklaim berhasil mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus membantu menghidupkan kawasan Pasar Ikan dan sentra UMKM.
“RCM legal dan seluruh retribusinya masuk langsung ke Kas Daerah,” jelas Santoso.
Lebih jauh, Pemkab Kediri juga menyiapkan strategi jangka panjang dengan memindahkan lokasi RCM ke area paling belakang kawasan SLG. Skema ini diharapkan memaksa arus pengunjung melewati lapak UMKM dan Pasar Ikan terlebih dahulu sebelum mencapai pusat keramaian.
Namun bagi sejumlah aktivis, berbagai rencana tersebut harus dibuktikan dengan hasil nyata, bukan sekadar konsep di atas kertas.
RDP yang berlangsung selama beberapa jam itu akhirnya ditutup dengan komitmen Komisi II DPRD Kabupaten Kediri untuk menindaklanjuti seluruh masukan yang disampaikan Aliansi LSM. DPRD berjanji akan melakukan evaluasi lebih mendalam bersama organisasi perangkat daerah terkait.(sinyo)












