Zona 6A dan 6B menyasar Jalan Taman PLN/RJM hingga Terminal Dishub, melibatkan pelajar, Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan.
Sementara Zona 7 bergerak di bantaran sungai dan taman hijau, menggandeng BPBD, PUPR, TNI-Polri, serta relawan.
Kepala DLH Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti, blak-blakan menyebut persoalan utama bukan lagi fasilitas.
“Tempat sampah sudah sangat banyak. Yang kurang itu kesadaran. Hampir setiap hari kami masih menemukan tumpukan sampah di belakang bangku taman,” ungkapnya.
Karena itu, pendekatan edukatif akan diperkuat. Pemerintah daerah berencana menjadwalkan aksi serupa secara rutin melalui surat edaran resmi, agar gerakan ini menjadi kebiasaan, bukan sekadar seremoni.
Partisipasi pelajar pun memberi energi tersendiri. Dewi Wulandari, siswi kelas X SMK Negeri 1 Ngasem, mengaku bangga bisa ikut menjaga wajah kota.
“Senang sekali bisa ikut bersih-bersih dan membantu menjaga ikon wisata Kediri agar tetap indah di mata wisatawan,” katanya.
Gerakan Indonesia ASRI di SLG bukan hanya tentang memungut sampah. Ini tentang membangun karakter, menumbuhkan rasa memiliki, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Jika konsisten digelorakan, SLG tak hanya berdiri megah sebagai ikon wisata Kabupaten Kediri, tetapi juga menjadi simbol kesadaran kolektif: bahwa kebersihan adalah harga diri bersama.(sinyo)












