“Kami membangun kebiasaan sederhana, mulai dari memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, membawa tumbler, hingga menjaga kebersihan ruang kerja. Jika dilakukan bersama dan terus-menerus, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan,” katanya.
Selain aksi kebersihan, Disparbud juga menguatkan edukasi internal melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sanitasi sehat, serta standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perkantoran.
Mustika menilai Gerakan Kediri Berbudaya ASRI bukan hanya program pemerintah, tetapi gerakan sosial yang harus tumbuh menjadi budaya masyarakat.
“Kami ingin gerakan ini menular. Ketika ASN memberi contoh, masyarakat akan ikut bergerak. Budaya bersih harus menjadi identitas Kabupaten Kediri,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Pelestarian lingkungan tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Dunia usaha, komunitas, pelaku wisata, hingga masyarakat memiliki peran penting. Inilah semangat gotong royong yang ingin kami bangun melalui Gerakan Kediri Berbudaya ASRI,” tambahnya.
Lebih jauh, Mustika berharap gerakan ini mampu memperkuat hubungan antara pelestarian budaya dan kelestarian alam.
“Budaya dan lingkungan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Ketika lingkungan terjaga, nilai-nilai budaya juga akan hidup dan diwariskan dengan baik kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Dengan semangat kolaborasi dan konsistensi, Disparbud Kabupaten Kediri optimistis Gerakan Kediri Berbudaya ASRI mampu mendorong terwujudnya Kabupaten Kediri sebagai daerah yang tidak hanya kaya budaya dan destinasi wisata unggulan, tetapi juga bersih, hijau, sehat, dan lestari.(sinyo)












